Apr 19 2010

Ke Inggris Lewat Darat

vulcano ashes-bbc

foto debu dari gunung berapi di Islandia diambil dari BBC

Saya masih berharap-harap cemas tentang rencana pernikahan kami yang akan berlangsung di Scotland (baca: Britain is Grounded dan Gretna Green) yang sudah kami rencanakan beberapa bulan yang lalu. Semua persiapan rasanya sudah beres semua (baca: Mungkin kan semua berjalan dengan Lancar?). Kopor sudah tinggal di angkat masuk mobil dan menunggu saatnya untuk ke airport. Mentalpun sudah siap. Rasanya tidak mungkin ada yang meleset dari rencana.

Tapi seperti kata pepatah: “Manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan juga yang menentukan”. Dan pepatah itu sampai sekarang masih berlaku.

Tepat seminggu sebelum kami seharusnya tiba di Scotland, TV Inggris memberitakan bahwa semua airport di Inggris Raya di  tutup, Continue reading


Feb 19 2010

Expatriasi ke Doha

a364s1072Dengan semakin sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia, semakin banyak teman-teman saya yang ingin melakukan expatriasi, bekerja di luar negeri. Banyak persepsi yang kemudian di tangkap oleh kebanyakan orang di Indonesia dari cerita-cerita mereka yang sudah berhasil berangkat dan bekerja di Luar negeri.

Pertanyaan yang paling sering di lontarkan oleh mereka-mereka yang ingin mendengar cerita hidup dinegeri orang tentunya adalah bagainama gaya hidup kita di negeri orang dan bagaimana adaptasi dengan lingkungan baru. Pertanyaan yang sama juga mungkin di lontarkan untuk orang-orang yang akan berangkat ber ekspatriasi; bagaimana harus beradaptasi dengan lingkungan baru…. apalagi kalo negara tujuan memiliki budaya yang jauh berbeda dengan Indonesia dan tidak begitu banyak propagandanya.

Ketika saya mempersiapkan diri saya untuk berangkat bekerja di Qatar, karena informasinya sangat sedikit tentang Qatar di Indonesia, saya harus mempersiapkan segala kemungkinan, salah satunya adalah cara berpakaian. Ketika itu pemikiran saya adalah, sebagai perempuan kami harus memakai kerudung, tak boleh memperlihatkan lengan dan betis dll. Saya pikir waktu itu tidak masalah memakai celana panjang terus menerus dan berbaju lengan panjang, tapi harus berkerudung… hmmm ini masih membingungkan saya…. Tapi sebagai persiapan di Indonesia, saya tetap membeli kerudung; meskipun untuk memakainya, saya masih berpikir beberapa kali.

Lalu bagaimana dengan komunikasi? Selain bahasa Indonesia, saya cuma bisa bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Persiapan saya waktu itu adalah dengan membeli DVD “Learning Arabic.” Saya juga kemudian membayangkan bagaimana komunikasi dengan orang-orang Arab itu, yang mana bahasa Inggrisnya pasti terbata-bata, sama seperti kebanyakan orang Indonesia yang lain. Mungkin di Kantor tidak begitu masalah, tapi bagaimana dengan hal-hal lain selain kantor, seperti misalnya belanja kebutuhan sehari-hari, di restaurant atau transaksi di bank? Saya pikir waktu itu adalah minimal saya harus mengerti “angka” dan “hari” karena ini sangat penting.

Sampai di Qatar… apa yang terjadi? Supir dan resepsionist yang menjemput dan menerima saya di hotel ternyata bukan orang arab, jadi saya cukup berbicara bahasa Inggris saja dan mereka sudah mengerti apa yang saya maksud. Teman di kantor hanya sedikit yang orang arab, semua dokumen dan surat menyurat pun dalam bahasa Inggris. Lalu bagaimana dengan belanja di supermarket atau warung dekat apartemen? Ternyata saya tidak pernah bertemu dengan pelayan toko yang orang arab, hampir selalu mereka adalah orang Filipina, India, Nepal atau malah mungkin orang Eritrea. Lalu bagaimana dengan Nonton TV atau mendengarkan radio? ternyata mungkin ada 2000 chanel TV yang bisa di tonton dari saluran antena parabola yang ada hampir di setiap atap apartmen seluruh Doha, dan tergantung channel yang mana yang ingin kita tonton, mungkin hampir semua bahasa yang ada di dunia ini ada disana, Al Jazeera TV adalah salah satu TV swasta milik Qatar, yang memiliki saluran khusus bahasa Inggris dan tidak lupa tentunya bahasa Arab. Apabila kita memasang antena yang tepat, TV Indonesia pun bisa ditangkap di Qatar ini. Bagaimana dengan berkendaraan? bagaimana dengan rambu-rambu lalu lintas di jalan? Ternyata hampir semua rambu lalulintas di tulis dalam dua bahasa, Bahasa Inggirs dan bahasa Arab dengan aksara arabnya…. hanya ini ‘arab gundul’

Beberapa waktu yang lalu teman kuliah saya, bergabung dengan saya di Qatar ini, dan dengan bangganya dia mengatakan bahwa dia megerti sedikit-sedikit mengerti apa yang dikatakan oleh penyiar TV channel lokal karena dia belajar bahasa Arab ketika kecil dan bisa membaca Qur’an. Pertanyaannya adalah apakah dengan sedikit bahasa Arab yang dia mengerti bisa membantu dia berfungsi di seantero Qatar?  Saya pikir dengan modal bahasa Arab nol tapi bisa bahasa Inggris sudah cukup untuk membuat saya beroparasi di Arabia ini; malah saya pikir dengan orang Arab dan terutama orang Qatar sendiri, apabila dia tidak bisa bahasa Inggris, malah dia yang tidak bisa beroperasi, karena pelayan toko, restoran kebanyakan adalah orang asing yang tidak bisa bahasa Arab, dan bahasa Inggris adalah media yang bisa membantu diantara mereka.

Pendapat saya? Kasihan orang-orang Arab itu yang harus menggunakan “bahasa kedua” untuk menjalankan hidupnya sendiri di negaranya sendiri. dan beruntunglah kita yang menjadi tuan rumah di negara kita sendiri…. kerugiannya adalah? kita jadi tidak bisa berfungsi di negara orang…. karena kemampuan bahasa Inggris yang minimum.


Dec 26 2009

Natal di Doha

natalBeberapa waktu yang lalu seseorang beragama nasrani mendapat tawaran pekerjaan di Doha dan bertanya-tanya bagaimana dia dapat menjalankan ibadah agamanya di Qatar. Pertanyaan ini tentu tidak bisa disalahkan, karena seperti negara-negara di Arabia yang lain, Qatar adalah negara Islam, dan bisnis pun berorientasi seperti layaknya negara-negara Arab-Islam lainnya, yaitu Hari Jum at adalah weekend.

“Loh terus apabila saya beragama Nasrani, apa saya bisa ke gereja hari Minggu…” begitu pertanyaan dia… Memang hari kerja bank adalah dimulai di hari Minggu dan akhir minggu adalah hari Kamis, artinya Jum at dan Sabtu adalah akhir pekan.

OK, ini ada statistik yang menjelaskan jumlah penduduk Qatar sekarang ini sekitar 1,4 juta orang; ketika pertama kali saya datang empat tahun yang lalu, penduduk mereka kurang lebih 800 000 orang saja. Logikanya populasi yang naik sekitar 75% itu tidak mungkin dari kelahiran saja, dengan kata lain pertambahan penduduk itu terjadi karena proses migrasi para ekspatriat.

Pohon Natal di pusat pertokoan Pearl

Pohon Natal di pusat pertokoan Pearl

Ini ada statistik lain yang mengatakan bahwa lebih dari 2 juta orang Philipina yang bekerja di kawasan Arabia. Padahal kita semua tau bahwa lebih dari 90% orang Philipina yang jumlahnya 90 juta itu beragama nasrani. Pertanyaannya adalah apakah mungkin dari yang cuma 9 juta Muslim Philipina itu, 2 juta orang bekerja di Arabia? Kayaknya yang ini mengada-ada…. Pengalaman saya di Middle East ini, saya baru 2 kali ketemu Muslim Philipina, sisanya semua beragama Katollik yang sangat taat beribadah. Pertanyaannya sekarang adalah: ‘kapan mereka beribadah?’ be flexible; geser saja hari Minggu ke hari Jum at, kan semua hari adalah baik, cuma namanya aja yang berbeda.

Yang menarik dari perkembangan Qatar yang semakin lama semakin liberal adalah, bahwa ketika pertama kali saya datang ke Qatar, tidak ada tuh yang namanya Christmas Tree di pajang di tempat umum, seperti di pusat pertokoan atau hotel atau tempat umum lainnya, tapi sekarang… pusat pertokoan kelas atas berani memamerkan pohon natalnya.

Lalu kemana orang merayakan “Christmas Brunch” traditionalnya. Biasanya mereka pergi ke hotel berbintang 5 untuk makan dan minum sekenyangnya… selama empat sampai liam jam non stop. Terus terang saya tidak bisa membayangkan apa saja yang mereka lakukan disana…. tapi sama seperti ketika bulan Ramadhan (baca - Ramadan Festival), hotel-hotel itu mengeruk keuntungan dari perayaan keagamaan seperti ini.

Makanan tradisional arabia pun tidak mau ketinggalan

Makanan tradisional arabia pun tidak mau ketinggalan

makanan pencuci mulut sepanjang koridor hotel

makanan pencuci mulut sepanjang koridor hotel

Yang menarik untuk saya adalah yang datang dan yang merayakan Natal tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa yang mampu merayakan Christmas Brunch adalah expat kulit putih, yang memiliki kekuatan ekonomi. Tapi di Qatar ini orang lokal pun kekuatan ekonominya tidak kalah.

Foto dibawah menunjukkan bahwa mereka pun ikut bernyanyi dan merdansa bersama “Carol Singer”nya yang bernyanyi keliling ruang makan hotel…..

Bernyanyi bersama 'Carol Singer' walaupun dengan pakaian tradisionalnya

Bernyanyi bersama 'Carol Singer' walaupun dengan pakaian tradisionalnya


Oct 15 2009

Menyeberang ke Qatar

nt-091014 crossingSaya memang terbang dengan Business Class, dari Manama Bahrain ke Qatar; barang yang saya bawa juga seadanya, meskipun terus exceed the limit, tapi permasalahan belum selesai disitu. Bagaimana dengan barang-barang yang lain? seperti TV misalnya dan mobil kami? dan yang paling penting buat saya mungkin adalah Keith, dia masih tertinggal di Bahrain!

Gambar disebelah ini tidak benar-benar merekfleksikan apa yang terjadi pada saya, tapi begitulah kira-kira Keith akan menyeberang ke Qatar, dengan mobil dan sebagian barang-barang yang tersisa. Sebagian barang yang lain sudah di angkut oleh perusahaan expedisi.

Sebenarnya ini mungkin bukan perjalanan istimewa cuma kira-kira 142 km saja, tapi ini dengan pesawat dan cuma ditarik garis lurus terdekat antara Manama dan Doha, tapi jarak ini jadi berbeda pada saat perjalanan ditempuh dengan mobil dan melalui tanah Saudi Arabia.

Dari apartemen tempat kami tinggal hingga perbatasan dengan Saudi mungkin tidak seberapa, cuma kira-kira 20 menit saja; perjalanan dari perbatasan Bahrain dengan Saudi sampai dengan perbatasan berikut, antara Saudi dan Qatar, ‘hanya’ maksimum 335 km, atau sama dengan Jakarta-Pemalang saja, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan didalam negara Qatar, atau dari Abu Samra ke Doha, yang cuma akan memakan waktu kira-kira satu setengah jam sampai dua jam, tergantung kemacetan di jalan.

Dengan kondisi jalan yang  sangat baik atau setara dengan jalan tol Jakarta – Bogor, secara matematika, dengan jarak tempuh kurang dari 450 km dan katakanlah kecepatan rata-rata adalah 90 km per jam, maka Manama-Doha bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 5 jam saja, dan ditambah mungkin urusan diperbatasan, maka paling lambat waktu Keith akan tiba di Doha enam jam kemudian.

Untuk kebanyakan orang Palestina perjalanan seperti ini adalah hal biasa. Mereka biasa melakukan perjalanan dari Doha hingga Amman (di Jordania). Dengan sebagian besar perjalanan adalah di tanah Saudi, perjalanan itu mereka tempuh antar 10 sampai dengan 20 jam, tergantung dari kecepatan mengemudinya. Untuk teman-teman orang Indonesia yang tinggal di Qatar, perjalanan inipun biasa, untuk mereka yang melakukan Umroh dari Qatar ke Saudi (lihat peta)

arabianmap

Untuk Keith perjalanan ini sebenarnya juga tidak terlalu istimewa. Pertama kali dia melakukan perjalanan ini adalah dari Riyadh ke Ras Al Kheima, 31 tahun yang lalu; perjalanan epicnya dari Riyadh hinggal London, naik mobil, bersama keluarganya, sekitar duapuluh tahun yang lalu, waktu tempuhnya sekalian mampir-mampir hampir tiga minggu sendiri.

Tapi perjalanan ini jadi berbeda, karena dia tidak cuma berkunjung ke negara lain dan lalu kembali;  dia juga mengexport mobilnya, perjalanan ini oneway, tidak kembali lagi ke Bahrain, dengan segala macam barang yang dibawanya dalam mobil itu beserta mobilnya; artinya dia mengexport mobil tersebut beserta isinya. Surat-surat yang harus disiapkannya pun berbeda dengan kalau melakukan umroh misalnya.

Lalu dokumen apa saja yang harus disiapkan? ini listnya:

  • Transit visa ke Saudi, yang mana berlaku untuk pengemudinya yang berlaku selama 3 hari. Mengurus transit visa ini sebenarnya mudah, cuma jadi agak lama apabila kedutaan Saudi tutup, dan mereka biasanya libur panjang pada saat Eidl Fitri. Jadi harus pandai-pandai mengatur waktu perjalanan. Khusus untuk Bahrain, pengurusan transit visa Saudi ini di sub kontrak kan pada agen perjalanan yang mereka tunjuk di Bahrain.
  • Ada visa khusus untuk mobilnya yang juga menjadi bagian dari dokumen perjalanan itu. Visa ini bisa di mintakan pada agen perjalanan tersebut.
  • car registration-nt-091015Nomor mobil Bahrain harus diganti, tidak lagi dengan nomor mobil Bahrain yang biasa, tapi dengan nomor mobil export. Untuk kepengurusan yang ini, dilakukan di kantor polisi dengan mengembalikan nomor asli dan menggantinya dengan nomor export. Masa berlaku nomor export ini cuma tiga minggu saja; artinya mobil tersebut harus meninggalkan Bahrain dalam waktu kurang dari 3 minggu, lebih dari itu, maka kadaluarsa.
  • Asuransi untuk mobil untuk melakukan perjalanan di Saudi dan di negara tujuan yang berlaku selama tiga minggu, sebelum asuransi ini diperbaharui di negara tujuan. Walaupun kita tidak mengharapkan terjadi kecelakaan, tapi asuransi ini adalah sesuatu yang harus dan di periksa di perbatasan. Polis asuransi bisa dibeli di perusahaan asuransi dekat denga perbatasan antara Bahrain dan Saudi, dan itu bisa dilakukan pada hari keberangkatan.
  • Pajak mobil. ini yang paling penting dan membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengurusnya. Pajak pembelian mobil biasanya di keluarkan pada saat membeli mobil di tempat tertentu dan sesuai dengan nomor mesin dan nomor registrasi mobil tersebut. Tapi pada saat nomor registrasi mobil berubah, tentunya surat-suratnya pun menjadi berubah disesuaikan dengan nomor registrasi eksport yang baru. Surat-surat ini dikeluarkan oleh dealer mobilnya, jadilah Keith harus mengurusnya dengan perusahaan mobil Honda yang menjual mobil tersebut.
  • Mobil ini bisa di import masuk Qatar apabila pemilik mobil ini memiliki visa tinggal (Residence Permit) di Qatar atau minimal visa kerja. Apabila Keith tidak memiliki visa ini maka dia tidak bisa mengimport/mengendarai mobil ini masuk ke Qatar, walaupun dia berhasil menyeberang melalui Saudi.

Semua urusan dokumen perjalanan beres maka berangkatlah Keith menyeberang melalui tanah Saudi dengan semua barang-barang sisa, meninggalkan aparteman kami di Doha yang sekarang kosong.

Blog Widget by LinkWithin