Mar 28 2010

Doha for the Expat

culturesYou know you live in doha when…

  1. £50 worth of groceries from Mega mart fits in one bag.
  2. A packet of biscuits from Carrefore that have 3 different layers of packaging and are still broken when you open them.
  3. Your shopping consist of 7 items packed in 5 plastic bags where 1 will suffice.
  4. You’re not surprised to see a goat or Cheetah in the passenger seat.
  5. You need a sweater when it’s 26 degrees Celcius.
  6. You believe that the definition of a “nanosecond” is: the time interval between the light turning green and the guy behind you blowing his horn
  7. You make left turns from the far right lane
  8. You send friends a map instead of your address
  9. You think it perfectly normal to have a picnic in the middle of a roundabout at 11pm
  10. You know exactly how much alcohol allowance you have left for the month
  11. You never say Saturday instead of Friday or Sunday instead of Saturday anymore
  12. You accept that there is no point in asking why you are not allowed to do something because there is no good reason why Continue reading

Feb 19 2010

Expatriasi ke Doha

a364s1072Dengan semakin sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia, semakin banyak teman-teman saya yang ingin melakukan expatriasi, bekerja di luar negeri. Banyak persepsi yang kemudian di tangkap oleh kebanyakan orang di Indonesia dari cerita-cerita mereka yang sudah berhasil berangkat dan bekerja di Luar negeri.

Pertanyaan yang paling sering di lontarkan oleh mereka-mereka yang ingin mendengar cerita hidup dinegeri orang tentunya adalah bagainama gaya hidup kita di negeri orang dan bagaimana adaptasi dengan lingkungan baru. Pertanyaan yang sama juga mungkin di lontarkan untuk orang-orang yang akan berangkat ber ekspatriasi; bagaimana harus beradaptasi dengan lingkungan baru…. apalagi kalo negara tujuan memiliki budaya yang jauh berbeda dengan Indonesia dan tidak begitu banyak propagandanya.

Ketika saya mempersiapkan diri saya untuk berangkat bekerja di Qatar, karena informasinya sangat sedikit tentang Qatar di Indonesia, saya harus mempersiapkan segala kemungkinan, salah satunya adalah cara berpakaian. Ketika itu pemikiran saya adalah, sebagai perempuan kami harus memakai kerudung, tak boleh memperlihatkan lengan dan betis dll. Saya pikir waktu itu tidak masalah memakai celana panjang terus menerus dan berbaju lengan panjang, tapi harus berkerudung… hmmm ini masih membingungkan saya…. Tapi sebagai persiapan di Indonesia, saya tetap membeli kerudung; meskipun untuk memakainya, saya masih berpikir beberapa kali.

Lalu bagaimana dengan komunikasi? Selain bahasa Indonesia, saya cuma bisa bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Persiapan saya waktu itu adalah dengan membeli DVD “Learning Arabic.” Saya juga kemudian membayangkan bagaimana komunikasi dengan orang-orang Arab itu, yang mana bahasa Inggrisnya pasti terbata-bata, sama seperti kebanyakan orang Indonesia yang lain. Mungkin di Kantor tidak begitu masalah, tapi bagaimana dengan hal-hal lain selain kantor, seperti misalnya belanja kebutuhan sehari-hari, di restaurant atau transaksi di bank? Saya pikir waktu itu adalah minimal saya harus mengerti “angka” dan “hari” karena ini sangat penting.

Sampai di Qatar… apa yang terjadi? Supir dan resepsionist yang menjemput dan menerima saya di hotel ternyata bukan orang arab, jadi saya cukup berbicara bahasa Inggris saja dan mereka sudah mengerti apa yang saya maksud. Teman di kantor hanya sedikit yang orang arab, semua dokumen dan surat menyurat pun dalam bahasa Inggris. Lalu bagaimana dengan belanja di supermarket atau warung dekat apartemen? Ternyata saya tidak pernah bertemu dengan pelayan toko yang orang arab, hampir selalu mereka adalah orang Filipina, India, Nepal atau malah mungkin orang Eritrea. Lalu bagaimana dengan Nonton TV atau mendengarkan radio? ternyata mungkin ada 2000 chanel TV yang bisa di tonton dari saluran antena parabola yang ada hampir di setiap atap apartmen seluruh Doha, dan tergantung channel yang mana yang ingin kita tonton, mungkin hampir semua bahasa yang ada di dunia ini ada disana, Al Jazeera TV adalah salah satu TV swasta milik Qatar, yang memiliki saluran khusus bahasa Inggris dan tidak lupa tentunya bahasa Arab. Apabila kita memasang antena yang tepat, TV Indonesia pun bisa ditangkap di Qatar ini. Bagaimana dengan berkendaraan? bagaimana dengan rambu-rambu lalu lintas di jalan? Ternyata hampir semua rambu lalulintas di tulis dalam dua bahasa, Bahasa Inggirs dan bahasa Arab dengan aksara arabnya…. hanya ini ‘arab gundul’

Beberapa waktu yang lalu teman kuliah saya, bergabung dengan saya di Qatar ini, dan dengan bangganya dia mengatakan bahwa dia megerti sedikit-sedikit mengerti apa yang dikatakan oleh penyiar TV channel lokal karena dia belajar bahasa Arab ketika kecil dan bisa membaca Qur’an. Pertanyaannya adalah apakah dengan sedikit bahasa Arab yang dia mengerti bisa membantu dia berfungsi di seantero Qatar?  Saya pikir dengan modal bahasa Arab nol tapi bisa bahasa Inggris sudah cukup untuk membuat saya beroparasi di Arabia ini; malah saya pikir dengan orang Arab dan terutama orang Qatar sendiri, apabila dia tidak bisa bahasa Inggris, malah dia yang tidak bisa beroperasi, karena pelayan toko, restoran kebanyakan adalah orang asing yang tidak bisa bahasa Arab, dan bahasa Inggris adalah media yang bisa membantu diantara mereka.

Pendapat saya? Kasihan orang-orang Arab itu yang harus menggunakan “bahasa kedua” untuk menjalankan hidupnya sendiri di negaranya sendiri. dan beruntunglah kita yang menjadi tuan rumah di negara kita sendiri…. kerugiannya adalah? kita jadi tidak bisa berfungsi di negara orang…. karena kemampuan bahasa Inggris yang minimum.


Dec 26 2009

Natal di Doha

natalBeberapa waktu yang lalu seseorang beragama nasrani mendapat tawaran pekerjaan di Doha dan bertanya-tanya bagaimana dia dapat menjalankan ibadah agamanya di Qatar. Pertanyaan ini tentu tidak bisa disalahkan, karena seperti negara-negara di Arabia yang lain, Qatar adalah negara Islam, dan bisnis pun berorientasi seperti layaknya negara-negara Arab-Islam lainnya, yaitu Hari Jum at adalah weekend.

“Loh terus apabila saya beragama Nasrani, apa saya bisa ke gereja hari Minggu…” begitu pertanyaan dia… Memang hari kerja bank adalah dimulai di hari Minggu dan akhir minggu adalah hari Kamis, artinya Jum at dan Sabtu adalah akhir pekan.

OK, ini ada statistik yang menjelaskan jumlah penduduk Qatar sekarang ini sekitar 1,4 juta orang; ketika pertama kali saya datang empat tahun yang lalu, penduduk mereka kurang lebih 800 000 orang saja. Logikanya populasi yang naik sekitar 75% itu tidak mungkin dari kelahiran saja, dengan kata lain pertambahan penduduk itu terjadi karena proses migrasi para ekspatriat.

Pohon Natal di pusat pertokoan Pearl

Pohon Natal di pusat pertokoan Pearl

Ini ada statistik lain yang mengatakan bahwa lebih dari 2 juta orang Philipina yang bekerja di kawasan Arabia. Padahal kita semua tau bahwa lebih dari 90% orang Philipina yang jumlahnya 90 juta itu beragama nasrani. Pertanyaannya adalah apakah mungkin dari yang cuma 9 juta Muslim Philipina itu, 2 juta orang bekerja di Arabia? Kayaknya yang ini mengada-ada…. Pengalaman saya di Middle East ini, saya baru 2 kali ketemu Muslim Philipina, sisanya semua beragama Katollik yang sangat taat beribadah. Pertanyaannya sekarang adalah: ‘kapan mereka beribadah?’ be flexible; geser saja hari Minggu ke hari Jum at, kan semua hari adalah baik, cuma namanya aja yang berbeda.

Yang menarik dari perkembangan Qatar yang semakin lama semakin liberal adalah, bahwa ketika pertama kali saya datang ke Qatar, tidak ada tuh yang namanya Christmas Tree di pajang di tempat umum, seperti di pusat pertokoan atau hotel atau tempat umum lainnya, tapi sekarang… pusat pertokoan kelas atas berani memamerkan pohon natalnya.

Lalu kemana orang merayakan “Christmas Brunch” traditionalnya. Biasanya mereka pergi ke hotel berbintang 5 untuk makan dan minum sekenyangnya… selama empat sampai liam jam non stop. Terus terang saya tidak bisa membayangkan apa saja yang mereka lakukan disana…. tapi sama seperti ketika bulan Ramadhan (baca - Ramadan Festival), hotel-hotel itu mengeruk keuntungan dari perayaan keagamaan seperti ini.

Makanan tradisional arabia pun tidak mau ketinggalan

Makanan tradisional arabia pun tidak mau ketinggalan

makanan pencuci mulut sepanjang koridor hotel

makanan pencuci mulut sepanjang koridor hotel

Yang menarik untuk saya adalah yang datang dan yang merayakan Natal tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa yang mampu merayakan Christmas Brunch adalah expat kulit putih, yang memiliki kekuatan ekonomi. Tapi di Qatar ini orang lokal pun kekuatan ekonominya tidak kalah.

Foto dibawah menunjukkan bahwa mereka pun ikut bernyanyi dan merdansa bersama “Carol Singer”nya yang bernyanyi keliling ruang makan hotel…..

Bernyanyi bersama 'Carol Singer' walaupun dengan pakaian tradisionalnya

Bernyanyi bersama 'Carol Singer' walaupun dengan pakaian tradisionalnya


Nov 3 2009

Apartment in Doha

091103-apartment1My experience as an expat in Arabia is that the company always provides the accommodation.   An apartment is provided and it is up to me whether to share it with a flat mate or just live by myself. The problem is the standard of living we want to have, whether the accommodation provided is up to our standard or maybe beyond our normal standard.

Off course, there are different ways of looking at it; just accept what the company has provided good or bad, and get on with it as this is only a ‘temporary place’, before moving on to another place, another company, and even another country before going home; or as we are living in a hardship location (that is separate from our love ones and in a foreign country, less facilities etc) we deserve Continue reading

Blog Widget by LinkWithin